Menunjukannya dalam bentuk puisi

Posted by on September 28, 2017

Abstrak Taufiq Ismail merupakan sosok yang mempunyai bakat dalam memberikan pemasukan. Pemasukan-pemasukan tersebut diekpresikannya lewat puisi-puisi yang ia tulis. Pada umumnya Taufiq mengarang puisi dalam konteks bernafaskan politik dan agama. Puisi-puisi yang bersangkut paut dengan politik, khususnya tahun 1960an, sering dikritik oleh Taufiq Ismail karena pada zaman tersebutlah Republik Indonesia mengalami krisis; seperti, PKI dan

Abstrak

Taufiq Ismail merupakan sosok yang mempunyai bakat dalam memberikan pemasukan. Pemasukan-pemasukan tersebut diekpresikannya lewat puisi-puisi yang ia tulis. Pada umumnya Taufiq mengarang puisi dalam konteks bernafaskan politik dan agama. Puisi-puisi yang bersangkut paut dengan politik, khususnya tahun 1960an, sering dikritik oleh Taufiq Ismail karena pada zaman tersebutlah Republik Indonesia mengalami krisis; seperti, PKI dan perubahan orde lama ke orde baru. Dengan adanya aspirasi keagamaan, menunjukkan kita bahwasannya Taufiq Ismail merupakan orang yang taat dan teguh dalam memeluk keimanan. Aspirasi politik dan agama tersebut sering dikaitkan kedalam puisi-puisinya agar kita sebagai pembaca atau pendengar dapat mengkaitkan kritiknya dengan posisi kita dalam seseorang yang menganuti ajaran agma. Puisi-puisinya juga terkadang terbentuk dalam sebuah nasehat. Pada umumnya, puisi yang bersifat nasehat terdapat unsur-unsur keagamaan demi membuat kita tersentuh akan saran dan pendapat yang ia berikan. Dalam pembuatan puisi, pemilihan kata yang tepat seperti kata “kita” sering digunakan demi membuat suasana universal dan nyata. Ada pula rima yang bersamaan demi membuat puisi lebih bermakna. Banyak kata-kata figuratif yang digunakan oleh Taufiq seperti halnya “Gayatri” yang mengartikan reinkarnasi akan semangat untuk melanjutkan perjuangan. Penulisan puisi yang cukup jenius ini memberikan kita sebagai pembaca atau pendengar minat untuk mengamatinya serta memberikan kita inspirasi. Pada dasarnya, esai ini merangkupi analisa terhadap karangan Taufiq Ismail yang berunsur politik dan agama yang terbentuk dalam puisi. Terdapat kata pengantar yang member penjelasan tentang Taufiq Ismail dan karangannya yang akan di bahas, isi dari analisa tersebut sendiri, dan kesimpulan atas analisa dari puisi-puisi itu. Analisa ini akan setidaknya memberi gambaran atas bagaimana seorang Taufiq Ismail membuat puisi dalam konteks keagamaan dan politik.

KATA PENGANTAR

Taufiq Ismail ialah seorang penyair yang lahir di Bukittinggi pada tanggal 25 Juni, 1935. Sosok kelulusan Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Indonesia ini lebih dikenal sebagai penyair yang unik atas karangan-karangannya yang bernafaskan politik dan agama. Semangat untuk menjadi penyair diawali dengan rasa cinta untuk membaca lembaran-lembaran puisi karangan orang sebelumnya dan juga sejarah, politik, dan agama. Karya-karya Taufiq banyak mendapatkan penghargaan dari negeri sendiri maupun negeri luar: penghargaannya diatara lain ialah, Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993)[1]. Taufiq Ismail merupakan seseorang yang mempunyai aspirasi politik dengan rasa nasionalisme yang cukup kuat disertai keimanan sebagai umat Islam yang teguh. Atas karakteristik yang ia miliki, Taufiq pun memberi pendapatnya melewati puisi-puisi yang dikarangnya. Keunikannya inilah yang mengantarnya untuk mendapatkan penghargaan-penghargaan tersebut. Banyak contoh-contoh puisi yang menunjukan rasa nasionalisme yang dapat membangun semangat akan citra bangsa dengan gambaran kondisi yang sedang dialami pada masa tertentu. Banyak juga contoh-contoh puisi yang mempunyai unsur-unsur keagamaan. Contoh-contoh puisinya dapat ditemukan di kumpulan puisi “Tirani dan Benteng”. Puisi-puisi dalam rangkuman “Tirani dan Benteng” dikarang pada tahun 1960an dimana Indonesia pada saat tersebut sedang mengalami banyak krisis. Kata “tirani” datang dari kata tiran dalam bahasa Yunani yang bermakna seorang aristokrat pada zaman dahulu di Yunani. Pada waktu 1960an, terjadi perubahan dari orde lama ke orde baru. Taufiq Ismail pun banyak menunjukan komentarnya dari sudut aspirasi kepolitikannya dan juga dikaitkan dengan unsur-unsur keagamaan. Bagaimanakah Taufiq Ismail dapat menunjukan sudut pandangnya tersebut kedalam puisi sehingga pembaca dapat mengambil kesimpulan tentang keadaan dan kondisi pada saat tersebut? Disinilah dimana puisi-puisi Taufiq dapat dianalisa untuk mengetahui mengapa kita sebagai pembaca dapat merasakan semangat di dalam jiwa sang penyair terhadap kondisi pada zamannya. Akan ada terbagi dalam tiga bagian: puisi-puisi yang bergerak pada bidang politik, puisi yang bergerak pada bidang politik, dan puisi yang bergerak pada bidang politik dan agama. Dengan adanya pembagian ini, akan lebih terlihat jelas makna dari unsur-unsur politik dan agama yang ingin disampaikan Taufiq.

CONTOH PUISI YANG BERGERAK PADA BIDANG POLITIK

Salah satu contoh puisi yang mempunyai sifat pada bidang kepolitikan dapat dilihat di dalam rangkuman “Tirani” . Puisi tersebut ialah “Sebuah Jaket Berlumur Darah” dan puisi tersebut berbunyi:

Ada penggunan diksi atau tata bahasa yang unik. Menurut saya, kata-kata seperti kami, mereka, dan semuanya bersifat universal. Ia membuat puisi ini menjadi bagian dari masyarakat-masyarakat pada zaman tersebut. Puisi ini seolah-olah berbicara untuk persepsi yang luas dan bermasyarakat. “Jaket berlumur darah” menunjukkan sebuah perjuangan yang menumpahkan darah dilanjutkan dengan kalimat “kami semua menatapmu” yang bermakna harapan. Kata jaket mengartikan alma mater para mahasiswa dan darah mengindikasikan sifat dari perjuangan. “Duka yang agung” dan “kepedihan bertahun-tahun” menunjukkan bahwasannya mereka telah lama menahan rasa sakit yang sangat dalam; rasa tersiksa. Kata bertahun-tahun memberitahukan kita bahwa kejadian ini tercipta bertahun sebelum pemberontakkan terjadi, 1966. Dengan kata lain, tahun sebelumnya, 1965, ada persitiwa yang telah menyakitkan hati para masyarakat; peristiwa tersebut ialah ganyang PKI. Salah satu tokoh yang dapat menyimbolisasikan “jaket berlumur darah” ialah A.R. Hakim yang tertembak di saat pemberontakkan terjadi.

Di bait kedua, pendapat saya ialah sungai itu menyibolisasikan aparat keamanan. Mereka menahan para mahasiswa untuk mencari “kebebasan.” Satu bukti bahwa sungai itu ialah aparat adalah mereka “berlapis senjata dan sangkur baja”. Sang penyair pun membuat para pendengar atau pembaca untuk berpikir tentang kejadian apabila mereka tengah mundur dan meninggalkan perjuangan mereka selama ini; mereka akan mematuhi peraturan yang “tidak adil”. Taufiq pun lalu membuat pernyataan di bait berikutnya bahwasannya mereka telah menatap spanduk-spanduk yang berisi tentang ajakan untuk melawan pemerintahan. Disambung pada bait berikutnya dimana penyair menyatakan spanduk atau slogan-slogan ajakan untuk memberntas ketidak adilan social di pemerintahan ini telah tersebar luas; melalui visual maupun verbal. Namun yang unik dari puisi ini ialah puisi ini diakhiri dengan ajakan “LANJUTKAN PERJUANGAN!” yang berarti mereka, walaupun risau dah gelisah serta merasa tertekan, tetap melanjutkkan perjuangannya untuk membentuk pemerintahan yang lebih baik. Kalimat ini dengan sengaja dikapitalisasikan atau dihuruf besarkan dengan tujuan memberi penegasan atau tekanan kepada para pembaca atau pendengar bahwa mereka harus tetap melanjutkan perjuangan dan tidak menyerah begitu saja walaupun mereka berlumurkan darah maupun gugur.

Alma Mater merupakan simbolisasi akan mahasiswa. Kalimat pertama merupakan pemberian semangat kepada mahasiswa yang berada di tengah demonstrasi era reformasi. Dari puisi ini, dapat di lihat bait per bait bahwasannya sang penyair memberi semangat kepada rekan-rekan mahasiswa agar tetap tegar walau salah satu dari mereka telah gugur. Sebagai tanda penjelasan yang lebih, ada pula potongan dari bait pertama dimana dinyatakan “menuju pemakaman; siang ini” memberi petunjuk untuk pembaca atau pendengar agar kita dapat mengidentifikasikan salah satu dari mereka telah gugur. Sebagaimana telah dijelaskan, ada kemungkinan bahwa seseorang yang gugur tersebut ialah A.R. Hakim.

Terletak di bait ke dua, “anakmu yang berani; telah tersungkur ke bumi; ketika melawan tirani” memberi isyarat bahwa kepada orang tua daripada anak tersebut untuk tetap tegar karena anaknya wafat sebagai seorang pahlawan. Kata “tirani” menunjukkan kita bahwa si anak tersebut melawan seorang aristokrat yang bertindak seperti penguasa besar karena kata “tirani” yang berdasarkan dari “Tiran” merupakan seorang aristokrat yang cukup berkuasa di zaman yunani kuno. Pada kesimpulannya, puisi ini menceritakan bagaimana seorang mahasiswa yang tengah memperjuangkan keadilan dengan melawan sang tirani dan lalu gugur. Pengunaan rima yang sama pada bait kedua seperti “berani, bumi, dan tirani” dapat memberikan sebuah sentuhan akan perasaan agar makna puisi dapat lebih ditangkap.

Puisi di atas melukiskan kejadian demostrasi para mahasiswa. Terjadi di saat pagi hari tiba, jalan para mahasiswa pun diblokir. Kita sebagai pembaca dapat mengethaui bahwa jalannya telah diblokir dari potongan kalimat “barikade yang telah di pasang”. “Ketika itu langit pucat; di atas harmoni” membuat seolah-olah mereka yang datang untuk mencari keharmonisan dan lalu diricaukan oleh aparat yang ditetapkan oleh “tirani”.

Di bait kedua, telah di beritahukan kondisi yang cukup parah di mana para aparat telah mempersiapkan baju dan persenjataan yang lengkap dan sebaliknya para pemberontak, mahasiswa, hanya dapat menunggu dengan rasa gelisah. Kondisi yang sangat panas disertai debaran jantung akan penantian aparat di balik kawat.

“Bendera setengah tiang” adalah sebuah petunjuk untuk memberi informasi bahwasannya ada yang gugur dari mereka. Faktor oleh tertulisnya setengah tiang melambangkan seorang pahlawan yang telah gugur; Taufiq melihat dirinya dan para mahasiswa lainnya sebagai pemberontak yang ada untuk membela bangsa. Kata “Gayatri” yang dikapitalisasikan ialah seorang dewi yang dapat mengiterpretasikan harta, pendidikan, atau pun reinkarnasi. Karena puisi ini berhubungan dengan kematian maka asumpsi saya ialah Gayatri di sini merupakan interpretasi dari reinkarnasi. Reinkarnasi itu pun dapat diartikan sebagai rasa semangat yang tiada matinya. Puisi pun namun ditutup oleh “seorang ibu menengadah; menyeka matanya yang basah” yang menunjukan betapa sedihnya sang ibunda akan anaknya yang menjadi korban. Menurut saya, Taufiq Ismail membuat puisi ini dengan artian untuk menyadarkan kita sebagai pendengar untuk lebih menuaikan perasaan akan pemerintahan orde lama yang terlihat tidak adil sehingga dunia politik pun kacau dan kemiskinan bertambah.

Puisi di atas menceritakan suasana setelah serpihan demonstrasi para mahasiswa dilaksanakan. Terlihat dari cara sang penyair menulis bahwa mereka kurang berhasil dalam upaya melawan aparat setempat karena mereka mempunyai persenjataan lengkap sedangkan para pemberontak hanya bermodalkan nyali dan semangat. Lalu merekapun mundur, bukan berarti menyerah, hanya tidak berdaya untuk melawan. Pilihan kata seperti “merenung” memperlihatkan kepada kita sebagaimana mereka tampak cukup kecewa.

Mereka pun beristirahat di kampus, dan lalu melihat segeromboloan anak mahasiswa dari kota seberang seperti Bogor. “Mereka dari mana-mana; semuanya kumal, semuanya tak bicara” menunjukkan bahwa mahasiswa dari Bogor tersebut juga di tengah memperjuangkan era reformasi yang baru. Meski mereka terlihat letih dan kumal, mereka pantang menyerah; menyerah akan senjata dari aparat yang ditetapkan oleh sang pemimpin. Karena keributan di masa 1966 ini, para mahasiswa ini juga sepakat bahwasannya mereka secara tidak langsung melupakan tugas aslinya para mahasiswa, belajar, karena mereka tidak tahu apa yang bisa terjadi kapan pun.

Kejadian pemberontakkan tersebut merupakan unsur-unsur politik yang lalu dijadikan ke dalam bentuk puisi oleh Taufiq. Namun, pemberontakkan yang dibicarakan itu berkaitan dengan keguguran dari salah seorang dari mereka yang ternama ialah di saat Arif Rahman Hakim tertembak. Taufiq pun menunjukan keunikannya dalam mengemukakan pendapatnya dari puisi dengan cara berbeda-beda. Salah satunya ia menggunakan nama temannya itu, Arif Rahman Hakim, di dalam puisinya.

Taufiq memulai dengan seruan “Kami tidak bisa dibubarkan; apalagi dicoba dihalaukan; dari gelanggan ini” untuk mengispirasikan masyarakat bahwa mereka tidak akan menyerah. Taufiq pun seakan-akan ingin menyampaikan bahwa semangat yang tinggi dapat menghasilkan pasukan yang kokoh.”Sejarah sedang singgah” adalah sebuah ekspresi akan petunjuk mereka ingin membuat sebuah perubahan. Di sertai dengan sambutan yang baik untuk merubah masa lalu sehingga kehidupan yang mendatang akan menjadi lebih baik. Di dalam puisi ini terdapat ingatan untuk pembaca atau pendengar untuk tidak menunda waktu untuk berbuat apa yang telah direncanakan. Lalu, penyair meletakkan nama Arif di dalam puisi untuk memperkuat makna perjuangan yang harus dilakukan secara cepat dan tegas. Menurut saya, kata Arif itu juga dapat diartikan sebagai kebijaksanaan; jadi, Arif yang telah gugur dapat mengiterpretasikan kebijaksanaan yang hilang.

CONTOH PUISI YANG BERGERAK PADA BIDANG AGAMA

Taufiq Ismail walaupun seorang yang mengeritik keadaan sosial dari beragam macam puisi, ia juga merupakan seseorang yang taat dalam beragama. Ia menulis puisi dalam aspek keagamaan yang cukup teguh. Salah satu contoh puisi yang memuat ansur-ansur keagamaan ialah “Doa”.

Puisi di atas berwujud sebuah doa; percakapan antara manusia kepada Tuhannya. Selain dari judul yang secara jelas memberitahukan kepada kita bahwasannya ia sedang berdoa, percakapan kepada Tuhan dapat dilihat dari hurup “M” yang dikapitalisasikan pada setiap kata yang mengartikan “kamu.” Ada kemungkin dimana Taufiq Ismail merasa berdosa akan tingkah lakunya yang mengelapkan hati akibat dari demonstrasi terhadap pemerintahan. Seperti dituliskan di atas, “telah nista kami dalam dosa bersama; bertahun-tahun membangun kultus ini; dalam pikiran yang ganda; dan menutupi hati nurani” Taufiq Ismail bersama rekannya tidak sepenuhnya dapat memastikan apa yang mereka lakukan ini merupakan hal yang baik di sisi sang pencipta, namun pemberontakkan ini ialah rasa keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih baik. Akibat dari kontroversi ini, ada kemungkinan Taufiq Ismail memanjatkan doa agar segala kesalahnya dalam bertindak demi kebaikan itu segera diampunkan. Keseriusan Taufiq dalam mempanjatkan permohonan atas pengampunan dosa dapat dilahat dari cara ia mengulangi bait yang berbunyi “ampunilah kami; ampunilah; amin” sebanyak dua kali. Selain menjadi seseorang yang memandang tinggi soal sosial, Taufiq juga peduli dengan keteguhan agamanya.

Demikianlah salah satu conoh puisi yang bergerak pada bidang agama yang dikarang oleh Taufiq Ismail. Karena rasa keteguhannya pada keagamaan cukup kuat, ia pun namun mencoba mengkombinasikan unsur-unsur keagamaan dengan politik. Bentuk daripada puisi seperti tersebut beragam; ada yang berupa himbauan dan juga ada yang bersifat nasehat. Kedua komponen puisi itu akan dianalisa pada bagaian selanjutnya.

CONTOH PUISI YANG BERGERAK PADA BIDANG POLITIK & AGAMA

Seperti yang diinformasikan di atas, ada puisi yang mengkombinasikan antara agama dan politik. Puisi pertama ini akan mempunyai elemen himbauan. Himbain disini merupakan sebuah puisi yang menceritakan soal seorang ibunda yang merelakan serta mengikhlaskan kepergian anaknya untuk berdemonstrasti melawan pemerintahan yang dianggap salah pada zamannya. Judul dari pada puisi tersebut ialah “Dari Ibu Seorang Demonstran”.

Terdapat pada puisi di atas dimana rasa keagamaan yang bercampur dengan rasa keinginan untuk membentuk era reformasi yang baru. Di mulai dengan “Ibu telah merelakan kalian; untuk berangkat demonstrasi; karena kalian pergi menyempurnakan; kemerdekaan negeri ini” yang menceritakan bagaimana seorang ibu bersedia anaknya untuk berjuang demi hak-hak rakyat yang belum tercapai serta kedamaian sosial untuk seluruh rakyat karena apalah arti kemerdekaan apabila kesengsaraan masih tetap meraja lela. Sang ibu juga bercerita tentang bagaimana aparat langsung menambak mati para demonstran tanpa melempar gas air mata terlebih dahulu. Ada juga kutipan di atas dimana disebutkan “delapan belas tahun yang lalu” sang ayah tertembak. Delapan belas tahun yang lalu merukapa periode Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya di saat Belanda memasuki Indonesia kembali. demikian, sang ibu tetap ingin mereka, anak-anaknya, untuk tetap berjuang. Ciuman dari ibunda tersebut merupakan simbolisasi akan doa restu atau persetujuan untuk melanjutkan perjuangan walau berbahaya. Ibunda juga memberi pengajaran agama di balik sebuah perjuangan dengan melafaskan nama Allah sebelum melakukan sesuatu. Melawan orang-orang yang bertindak tidak primanusiawi merupakan bagian dari jihad dan oleh karena itu sangi ibu ingin mereka untuk berjuang di jalan Allah, sang pencipta, agar mereka selalu mendapat tuntunan yang benar. Dari kalimat “sunyi dari dendam dan kebencian” saya menyimpulkan bahwa sang ibu tidak ingin anaknya untuk membawa pemberontakkan ini dengan rasa dendam dan benci. Melawan karena rasa kebencian itu merupakan hal yang tidak baik, maka dari itu sang ibunda menganjurkan anak-anaknya untuk berjuang di jalan yang maha kuasa. Puisi di akhiri dengan aksi mulia pamitan dari ketiga anak tersebut: Iwan, Ida, dan Hadi, untuk melanjutkan perjuangan. Pamitan tersebut menyimbolisasikan ke harmonisan dan juga kata pamit itu berkonotasi perpisahan. Penutupan terakhir yang terdapat di tanda kurung, “tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata” memberitahukan kita bahwasannya anak-anak tersebut telah rela untuk meninggal. Di dalam puisi ini, terdapat Taufiq Ismail memberi dukungan terhadap pemberontakan melalui unsur-unsur agama. Puisi ini merupakan salah satu contoh bagaimana Taufiq Ismail dapat mengabungkan aspirasi politik dan agama. Sifat dari kepolitikannya dapat dilihat dari dorongan untuk memberontak melawan aristokrat dan juga sifat dari keagamaannya dapat dilihat dari himbauan sang ibu untuk selalu mengingat kepada Allah dalam berjuang.

Unsur politik yang mengandung nilai-nilai agama lainnya yang ditunjukkan oleh Taufiq Ismail dapat dilihat dari puisi “Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa.” Puisi ini mempunyai elemen yang berupa nasehat.

Dapat di analisa bahwa pesan-pesan di atas berakhir pada tingkatan tertinggi yaitu Tuhan. Menyampaikan kebenaran dapat ditujukan kepada kepala pemerintahan zaman tersebut. Di sambung dengan keyakinan yang tidak dapat di perjual belikan karena hal itu bersifat emosional dan menjadi rakyat yang di terus ditipu ialah tindakkan yang tidak manusiawi. Kalimat ini ditujukan lagi kepada kepala pemerintahan. Selanjutnya, di tujukan untuk semua secara universal bahwa tindakan yang zalim harus segera di berantaskan; termasuk hal-hal seperti pemerintahan yang tidak baik. Pohon-pohon di puisi ini menyimbolisasikan aristokrat-aristokrat yang zalim dan harus ditumbangkan. Bukan lah sang aristokrat seperti itulah yang harus diagungkan, melaikan sang Rasul. Di zaman 1966 ini, pemimpin berlaku kuasa dan tidak adil; jadi, bukanlah orang seperti itu yang harus diharumkan namanya. Dan yang terakhir, gugur secara syahid di jalan Ilahi merupakan jalan yang terbaik. Seperti mana disebutkan pada puisi sebelumnya, memberantas keburukan ialah suatu pembentukan dari jihad dimana apabila seseorang mati, dianggap orang tersebut mati syahid. Puisi ini sepertinya membandingkan sosok pemimpin dengan cara memberitahukan kepada kita bahwasannya bukan orang yang seperti mereka miliki di zaman itu yang harus diagungkan, melainkan sosok seperti Rasul. Pengunaan rima yang sama pada puisi ini juga dipergunakan untuk memberi sentuhan kepada perasaan kita agar dapat memahami arti yang ingin ia sampaikan. Taufiq menyempatkan unsur agama di dalam nasehat tersebut yang secara tidak langsung mencerminkan bahwa Taufiq merupakan sosok yang mempunyai keteguhan dalam beragama.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari semua puisi di atas ialah mereka berbicara untuk universal serta makna yang cukup dalam untuk keadaan dan kondisi pada zaman tersebut. Dapat terlihat pada seluruh puisi di atas, saya memilih era tahun 1966. Tahun 1966 merupakan era reformasi dimana keributan tengah terjadi; jejak-jejak bekas PKI (Partai Komunis Indonesia) masih tersisa, revolusi yang cukup mengempar, dan perubahan orde lama. Banyak terdapat unsur-unsur kritik politik dan keadaan sosial. Di dalam kritik-kritik tersebut, Taufiq menyempatkan diri untuk meletakkan sisi keagamaan. Dari pernyataan ini, kita dapat mengetahui Taufiq Ismail ini ialah seseorang yang mempunyai keteguhan dalam beragama dan selalu bertindak dalam kriteria-kriteria yang ditentukan dalam agamanya. Ada kalanya dimana ia mungkin sedikit takut akan dosa yang ia lakukan di saat berdemonstrasi, maka dari itulah ia menunjukan rasa hibanya dari puisi “doa”. Mengapa pada awalnya saya mengatakan universal? Saya mengatakan universal berdasarkan kata “kita” yang terus dipakai oleh Taufiq dalam menulis puisi ini. Kata “kita” terus dipergunakan karena mengandung arti kebersamaan. Mereka secara bersama-sama berontak terhadap pemerintah. Dengan menggunakan kata kita, puisi pun akan terasa lebih dramatis karena perasaan yang mendengar atau membaca akan lebih kompak antara satu dengan lainnya. Segala “kita” di puisi ini mempunyai tujuan yang sama sehingga mereka semua terlihat bersatu. Taufiq Ismail membuat puisi-puisi ini seolah-olah para mahasiswa adalah orang-orang yang benar. Apakah demikian? Itu tergantung kepada yang menginterpretasikannya. Walau bagaimanapun juga, Taufiq Ismail tetap menjadi seseorang yang legendaris di mata saya karena keunikannya. Ia unik dalam membuat kritik yang bersifat samar-samar namun melekat di jiwa. Seperti halnya puisi “Arithmatik Sederhana,” puisi ini merupakan puisi yang sangat sederhana dan lalu kritiknya pun terlihat samar, namun orang secara tidak langsung dapat merasakan efek sampingnya. Ada pula puisi yang berbentuk restu seorang ibu yang merelakan anaknya untuk bergegas melawan tirani. Puisi ini dapat menjadi sebuah himbauan untuk para ibu-ibu untuk merelakan anak-anaknya berjuang. Dukungan atas semangat pun dapat dicurahkan melewati puisi, seperti puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah.” Pada puisi ini terdapat seseorang yang gugur. Orang yang gugur tersebut merupakan salah satu keguguran yang cukup dikenal oleh masyarakat, yaitu keguguran Arif Rachman Hakim. Ada juga puisi yang diciptakan berupa nasehat. Nasehat ini mempunyai alur cerita yang menyentuh permukaan agama; contohnya, “Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa.” Apabila dianalisa, puisi Taufiq Ismail sering mempunyai unsur keagamaan terutama di saat puisi-puisi tersebut berwujud nasehat. Hampir segala karya Taufiq Ismail mempunyai pesan moral atau himbauan untuk kita di balik puisi-puisinya; dengan cara yang berbeda-beda, Taufiq membuatnya unik dan berbeda.

Bibliography

  • “Taufiq Ismail -.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Web. 02 Dec. 2009. <http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail>.
  • “TIRANI dan BENTENG.” Web. 02 Dec. 2009. &li;http://kelip2.multiply.com/journal/item/44>.
  • “Taufik Ismail | Penyair | Ensiklopedi Tokoh Indonesia.” Tokoh Indonesia – Ensiklopedi Tokoh Indonesia – Ensikonesia | Tokoh Nasional – Indonesian Famous | The Journalistic Biography. Web. 02 Dec. 2009. <http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml>.
  • “Tiran -.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Web. 02 Dec. 2009. <http://id.wikipedia.org/wiki/Tirani>.
  • Ismail, Taufiq. Tirani; dan, Benteng dua kumpulan puisi. Jakarta: Yayasan Ananda, 1992. Print.
  • “Taufiq Ismail, Janji untuk Bertindak, dan Komunitas Terbayang.” Kabut Institut. Web. 02 Dec. 2009. <http://kabutinstitut.blogspot.com/2008/05/taufiq-ismail-janji-untuk-bertindak-dan.html>.
  • “Tirani dan Benteng.” Mengumpulkan Puisi Membaginya Juga. Web. 02 Dec. 2009. <http://pecintapuisi.wordpress.com/category/taufiq-ismail/tirani-dan-benteng/page/2/>.
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *